Kiss Me

Aa duduk di lantai beralas karpet, punggungnya disandarkan kedinding. Lututnya ditekuk menyangga lengan dengan rokok di sela jemarinya, seperti gaya bapak-bapak di warung kopi. Rumah begitu tenang, TV menyala tidak bersuara.

Raut letih berangsur rileks di bawah paparan hembusan AC. Aku menatapnya dari kejauhan, dari sudut dapur sambil menunggui panci air mendidih untuk menyeduh teh panas.

Untungnya hari ini jalanan tidak begitu macet, aku bisa tiba di rumah lebih cepat. Ada cukup waktu untuk membereskan rumah sebelum Aa pulang. Aku sudah berjanji dalam hati, begitu Aa tiba di rumah sebisa mungkin waktuku fokus untuk Aa. Memanfaatkan satu-dua jam berbincang sebelum naik ke atas tempat tidur, melepas lelah.

Aku mengansurkan secangkir teh panas di atas tatakannya ke hadapan Aa.

“Trimakasih, say…” ucap Aa tulus.

Aku menyodorkan pipiku, meminta bayaran untuk secangkir teh panas. Kecupan. Ini teh special, termahal di seluruh jagad.

“Mmuah…”

Kecupan hangat termahalnya juga kubayar dengan senyuman selebar samudra bahagia.

Kucondongkan tubuhku mendekat, tak ingin berjarak. Aa menggeser tubuhnya dengan posisi yang tetap, hanya memastikan aku juga duduk di atas karpet bukan di lantai tak beralas.

Tapi malam ini tidak ada yang ingin kuceritakan. Aku hanya ingin memandangnya lekat-lekat, tidak peduli wajah Aa yang bersemu merah, jengah akan tatapanku seperti kekasih yang lama tak berjumpa.

Puas menatapnya, kucondongkan tubuhku meletakkan pipi kiriku di atas kakinya yang ditekuk, tanganku melingkar memeluk lututnya. Menjadikan lututnya bagai boneka yang pas didekapanku.

Aa tersenyum meluhat ulahku. Seakan tau yang kuinginkan, ia mematikan rokoknya dan menjejalkan separuh bagian ke dasar asbak. Kali ini aku menang, rokok itu kalah bersaing denganku.

Lengan Aa naik ke punggungku. Mengusap, membelai, memindai hingga tengkuk. Membagi hangat yang menyebar dari telapak tangannya. Aku merinding, merasakan sensasinya bagai aliran listrik menyengat simpul-simpul syaraf.

Senyuman penuh sayang. Senyum penuh kasih. Senyum damai, tanpa suara. Kilat cahaya dari layar TV berpendar di sudut mata, tapi tidak ada yang bisa mengalihkan tatanku dari wajah Aa. Kini tanganku yang naik ke pipinya. Ujung telunjukku bergerak menyeka barisan alis matanya. Lalu menyingkirkan helai rambut yang jatuh di keningnya. Wajah lembut, tatap teduh, mata bulan sabit melengkung sempurna.

Wajah Aa hanya beberapa senti dari wajahku, tapi tatapan itu adalah magnet yang menarik wajahnya mendekat, hingga seluruh pandangaku tertutup. Mataku reflek terpejam seolah sedikit saja cahaya memasuki mataku akan membuat sensasi rasanya berbeda, aku ingin menikmati bibir hangat beraroma tembakau yang terasa seksi memindai wajahku.

Kecupan lembut itu mendarat di pipi kanan, lamaa sekali terbenam di sana. Seperti aku mencandu pipi putih aa yang serupa bakpao itu, mungkin seperti itu juga ia menyukai pipiku yang katanya menggoda seperti Kopi Bun, roti lembut beraroma kopi. Nafasnya yang teratur mulai bergerak lagi di sepanjang rahangku, turun ke dagu, berpindah ke sudut mata. Entah apa yang aa temukan di sana, ia juga betah berlama-lama mengecup sudut mataku yang terpejam, aku bisa merasakan puncak hidungnya menyibak alisku.

Kecupan ringan bermakna terimakakasih, tetapi kecupan lembut dan lama adalah kecupan yang paling aku candui. Wajahku bisa merasakan tekstur bibirnya yang kenyal dan lembut. Wajahku bisa merasakan hembusan hangat. Dan, dadaku bisa mendengar detakan teratur mengalun merdu. Hanya itu suara yang ingin kudengarkan.

Kecupan itu bergerak ke puncak wajah, di batas kening dan kepala yang ditumbuhi rambuh halus. Dan diam di sana untuk beberapa lama. Entah mengapa mataku selalu hangat ketika Aa mengecup dan menciumiku dengan perlahan. Kepala hanya dipenuhi satu hal. Sayang, sayang, sayaaaaaang, dan saaaaaaayang. Aku menyayanginya, Tuhan…

Lalu kecupan di pangkal hidung di antara mata yang terpejam bergerak turun ke puncak hidung. Tubuh menghangat, sudut mata semakin basah. Dan ketika kecupan itu terus bergerak ke bawah  bertemu pasangannya, aku mendapati tubuhku kehilangan daya topang, tanganku jatuh, tubuhku luruh dalam dekapannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: